Jam Hitam | A Story
"Seperti sebuah balon, semakin ia ditiup, udara dalam balon itu akan semakin penuh, hingga akhirnya terlalu penuh sampai membuat balon itu meledak dan tak bisa diisi udara lagi. Bayangkan balon adalah hati, dan udara adalah rindu. Andaikan itu terjadi padamu, mungkin aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karenanya."
Hal yang kuingat pagi ini dimulai dari aku yang terbangun di tempat tidur. Aku tidak langsung beranjak, hanya berbaring diam di atas ranjang dengan mata terbuka. Samar-samar suara dengung air conditioner menyapa indra pendengaranku. Udara dingin mulai terasa menerpa kulit, untunglah selapis selimut tebal melindungi tubuhku darinya. Kukerjapkan irisku perlahan, kutolehkan kepala ke arah jendela kaca besar yang terpampang di seberang tempat tidurku.
Gorden telah tersibak di sisi kanan dan kirinya, mengijinkanku melihat keluar ruangan, memperbolehkanku untuk menikmati pagi yang cerah di luar sana. Matahari sudah meninggi, dikelilingi arak-arakan gumpalan putih yang ikut terbawa angin. Jalanan di bawah sana pasti sudah ramai oleh kendaraan-kendaraan berpolusi. Sudah terlalu siang bagi orang-orang untuk sarapan, dan masih beberapa jam lagi sebelum makan siang. Meski begitu, aku tetap tidak beranjak, tubuhku terasa berat untuk digerakkan. Ah, rasanya malas sekali, pun seberapa besar aku mencoba untuk bangun tubuhku tidak bergerak banyak. Aku hanya terus mengerjap tanpa pergerakan berarti.
Sudah berapa lama aku bangun? Satu jam? Dua jam? Atau mungkin baru sepuluh menit? Kuamati jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jam yang sudah kupasang di sana sejak setahun yang lalu. Aku masih ingat, pertama kali kukenakan jam hitam itu begitu pas di pergelangan tanganku. Aku hampir tak pernah lupa dan selalu memakainya kemanapun aku pergi, seakan ia adalah bayanganku sendiri. Lebih dari sekedar bayangan, jam hitam itu adalah pengingat bagiku. Alarm setiap kejadian-kejadan penting yang mempengaruhi kehidupanku. Aku mengingat-ingat awal mula jam hitam itu terpasang di tanganku. Ah, kenapa waktu cepat sekali berlalu. Ini berarti sudah setahun dia pergi. Dan aku yang terlalu pengecut untuk menerima kenyataan sekarang hanya bisa terbaring menyedihkan di atas ranjang.
Tangan kananku bergerak menyentuh jam tangan itu. Meraba perlahan permukaan kaca yang berhias retakan lebar itu, membuatnya bisa pecah dan hancur kapan saja. Walau begitu, jarum jamnya masih berfungsi seperti biasa, tak lelah untuk terus mengingatkan bahwa waktu tetap berjalan. Sepintas kenangan pahit melintasi pikiranku. Bekas retakan ini menjadi bukti bahwa dia memang sudah pergi. Dia, satu-satunya orang yang selalu berdiri di sampingku. Dia, satu-satunya orang yang bersedia menjadi payungku. Dia, satu-satunya orang yang memahamiku lebih dari siapapun. Orang yang menciptakan senyum dan tawa di bibirku. Dia, yang selalu kurindukan setiap aku jauh darinya. Orang yang aku merasa tak cukup hanya menyebutnya sebagai orang yang kusayangi. Lebih dari itu. Dia lebih dari itu. Rasa rinduku ini buktinya, kerinduan yang makin hari semakin tebal, mungkin kini tak akan terobati. Karena kini dia telah pergi.
Dia, Rivai Adhikari namanya. Pemuda yang lima tahun lebih tua dariku. Orang yang selalu mengayomiku. Dia adalah sosok laki-laki paling sempurna bagiku. Aku tak henti-hentinya bersyukur memiliki kakak seperti dirinya. Namun rasa syukurku tiba-tiba terganti oleh rasa putus asa dan tak terima. Putus asa karena dia meninggalkanku, tak terima karena ia pergi dariku. Hari itu. Aku masih ingat bagaimana hari itu mengubah hidupku untuk selamanya. Hari Jumat, tanggal 19 Juni tahun 2014, pukul sepuluh lebih tujuh menit. Dia menghampiriku yang sedang sarapan di ruang makan, telah berpakaian rapi dan bersiap berangkat ke kampus.
“Putri, aku pergi dulu. Selesaikan sarapanmu dan bereskan rumah sebelum kau pergi,” ucapnya kala itu sambil memakai sepatu.
“Baik. Apa hari ini kau akan pulang malam?” tanyaku. Dia berhenti sebentar dari aktifitasnya, kemudian menoleh padaku dengan tatapan matanya yang tajam itu. Keheningan sejenak yang terjadi kugunakan untuk mengamati raut wajahnya. Matanya agak meredup pagi ini, dan pancaran lelah terlihat samar darinya. Raut wajahnya sedikit pucat, dan sudut bibirnya yang biasanya tertarik tinggi kini hanya ala kadarnya, menampilkan sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. Ekspresi yang sama sejak sebulan yang lalu.
“Sepertinya tidak. Aku akan cepat pulang. Kenapa? Apa kau akan merindukanku?” tanyanya usil.
Aku mendengus keras dan menjawab, “Tidak. Untuk apa merindukanmu jika aku melihatmu setiap hari?”
Mendengarnya, dia tertawa kecil. Yang kuingat, itu adalah tawa terakhir yang kudengar darinya. Kemudian matanya menerawang jauh, pandangannya sendu, namun sebuah senyum masih terukir di bibirnya. “Yah, tidak ada salahnya merindukan seseorang sepertiku, Put. Tapi tolong jangan sampai rasa rindu itu terlalu lama dipendam. Seperti sebuah balon, semakin ia ditiup, udara dalam balon itu akan semakin penuh, hingga akhirnya terlalu penuh sampai membuat balon itu meledak dan tak bisa diisi udara lagi. Bayangkan balon adalah hati, dan udara adalah rindu. Andaikan itu terjadi padamu, mungkin aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karenanya.” Dia menatap lurus ke arahku. “Nah, satu tips untukmu, Tuan Putri yang manis. Jangan meniup balon dengan terlalu banyak udara.”
Kata-katanya yang indah, usil, tapi misterius seperti itu sudah sering kujumpai. Dan aku sangat hafal kata-kata itu merupakan pertanda akan terjadi sesuatu, atau ia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Ucapannya seolah sedang menceritakan keadaannya sendiri. Dan aku tahu betul apa yang sedang dibicarakannya.
Tidak ingin mendengarnya melanjutkan kata-kata anehnya, aku berusaha mengubah topik pembicaraan. “Sudah jam sepuluh lebih delapan belas menit, kau bisa terlambat jika tidak segera pergi,” kataku sambil menunjuk jam tangan analog berwarna hitam di tangannya. Dia refleks melirik pergelangan tangan kirinya dan kembali terburu-buru mengenakan sepatu. “Kau masih mengenakan jam itu?” tanyaku kecut sambil mengamatinya menyelesaikan urusan sepatunya.
Kini tanpa menoleh dia menjawab, “Aku tidak bisa melepasnya. Setidaknya belum. Ini adalah satu-satunya barang yang ditinggalkan Sonya untukku. Kau tahu betapa penting benda ini bagiku.” Dia berdiri tegak dan menghadapku lagi. Kepalanya menunduk menekuni pergelangan tangan kirinya, disentuhnya jam tangan itu dengan jemari. “Seperti alarm, benda ini adalah pengingat bahwa Sonya pernah hidup dan pernah bertemu denganku. Walau sebentar, pertemuan kami begitu berkesan. Aku ingin selalu mengingatnya, meski aku tidak bisa melihatnya lagi.” Senyum sedih nan mendamba tersungging di bibirnya.
Sonya, perempuan itu adalah cinta mati Rivai. Aku tahu dari bagaimana sorot mata, gerak tubuh, serta raut wajahnya saat menceritakan perempuan itu. Aku pernah bertemu dengannya, tidak sering, namun cukup membuatku yakin bahwa dia adalah sosok yang sangat pantas bersanding dengan Rivai. Namun sayangnya, Tuhan tidak memperkenankan mereka bersama lebih lama. Sembilan belas hari setelah Rivai dan Sonya menjadi sepasang kekasih, perempuan itu dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Yang kutahu, penyebabnya karena leukimia yang telah menggerogoti tubuhnya sejak kecil. Raganya telah menyerah, meski jiwanya terus memancarkan semangat untuk hidup. Setelah pemakaman Sonya, Rivai pulang dengan jam tangan hitam di genggamannya. Jam tangan milik Sonya yang diberikan pada Rivai sebagai pengingat.
“Putri, apa kau mau jam tangan ini? Sepertinya lebih cocok untukmu. Aku akan berikan nanti sepulang dari kampus, bagaimana?” ucapannya menyadarkanku dari lamunan.
Aku memandang heran ke arahnya. “Kenapa? Bukankah kau bilang benda itu sangat berharga untukmu?”
“Ya, memang. Karena itulah aku ingin kau yang memakainya.” Dia tersenyum lagi kemudian menambahkan, “Aku ingin sesuatu yang berharga bagiku hanya ada pada satu tempat, yaitu padamu. Karena kau adalah orang yang paling berharga untukku.”
Aku terdiam mendengarnya berkata seperti itu. Dadaku terasa sesak, perutku melilit entah kenapa. Di satu sisi, aku begitu bahagia dan terharu mendengarnya. Tapi di sisi lain, hatiku menjerit memperingatkan sesuatu. Firasatku tidak enak. Tak ada suara yang keluar dari bibirku sampai dia berpamitan padaku dan beranjak keluar apartemen kami. Aku hanya bisa menatap punggung lebarnya yang semakin jauh hingga hilang di balik daun pintu.
Kenangan indah itu berlalu cepat dan berganti menjadi sebaliknya. Kilas balik yang bagaikan mimpi buruk bagiku. Hari itu juga, pukul lima belas lebih tiga puluh menit, sebuah panggilan dari rumah sakit membuatku memacu langkah ke ruang IGD. Rivai kecelakaan. Hanya itu yang kutangkap dari ucapan pegawai rumah sakit di telepon. Jarak yang tidak dekat membuat napasku terputus-putus sesampainya di gedung besar bercat putih tulang itu. Aroma disinfektan yang menyengat hidung tak kuhiraukan. Pikiranku hanya tertuju pada pemuda yang kukhawatirkan. Hingga akhirnya aku melihatnya di sana, terbaring di salah satu ranjang rumah sakit dengan noda darah di pakaiannya. Tubuhnya tak bergerak.
“Rivai...” Aku menatap sosoknya tak percaya. Mataku membulat seolah akan keluar dari rongganya.
“Putri...” suara lirih itu menyapa telingaku. Dengan cepat aku menghampirinya. Ingin aku memeluknya, namun aku takut akan membuatnya kesakitan karenanya. Matanya terbuka, tubuhnya lemas, namun aku tahu dia sedang berjuang keras untuk tetap sadar dan tidak jatuh tertidur. “Kau masih ingat yang kita bicarakan tadi pagi? Sonya pasti juga setuju jika kau yang mengenakan jam tangan ini.” Suaranya terdengar begitu pelan dan berat, membuatku semakin khawatir karena pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan.
“Kenapa orang sekarat selalu bicara banyak? Kenapa orang sekarat selalu berkata seolah-olah dia akan mati? Kau, jangan meniru adegan di film-film itu. Kau membuatku khawatir tahu! Cukup simpan tenagamu sampai kau pulih,” ucapku dengan suara bergetar menahan tangis. Kugenggam tangannya erat, berusaha menyalurkan kehangatan dan kekuatan batin untuknya.
“Maaf,” ucapnya pelan. “Maaf karena jam tangan yang seharusnya kuberikan padamu malah rusak sebelum kau menerimanya karena kecerobohanku. Maaf karena membuatmu khawatir. Dan maaf, karena aku mungkin akan membuatmu merindukanku untuk waktu yang tak terbatas.”
“Apa yang kau katakan? Berhenti bicara! Berhenti bicara, kumohon...” Air mataku mulai menetes satu demi satu, hingga mengalir membasahi pipiku.
“Putri, aku ini hanyalah selembar daun yang jatuh ke sungai. Aku sudah mengarungi aliran kehidupan yang harus kujalani, lika-likunya, sampai arusnya yang deras. Dan sekarang aku sudah sampai di hilir, daunku sudah hampir hanyut dan akan memasuki laut. Laut yang sama yang dihuni Sonya.”
Aku menggeleng kuat-kuat. “Tidak! Jangan teruskan!”
Rivai memberi isyarat agar aku mendekat. Aku menurut dan mendekatkan kepalaku ke wajahnya. Tiba-tiba sebuah sentilan mengenai dahiku pelan. “Meski aku mati, aku tetap akan hidup dalam kenangan dan hatimu.” Senyum lebarnya menyambutku. “Terima kasih telah menjadi adikku, Tuan Putri.”
Setelah dia mengatakan itu, aku menangis kencang. Tak kupedulikan keadaan rumah sakit yang ramai. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang di ruangan itu. Sesaat masih bisa kurasakan telapak tangan lebar milik Rivai yang membelai kepalaku. Hanya sebentar sebelum kusadari tangan itu telah terkulai di samping tubuhnya. Aku menangis dan terus menangis sampai air mataku kering, sampai tenggorokanku terasa sakit. Kulihat kedua kelopak mata Rivai terpejam, tubuhnya mulai kehilangan kehangatannya. Kakakku telah tidur untuk selamanya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Inikah maksud perkataan Rivai tadi pagi? Aku sungguh berharap ini hanya sebuah mimpi buruk dan segera bangun. Memang benar Rivai pulang cepat, tapi dia tidak pulang ke apartemen kami melainkan ke pangkuan Tuhan. Kakakku pulang cepat, tapi bukan pulang kepadaku. Dan benar, dia memberikan jam tangan Sonya padaku sepulang dari kuliahnya. Jam tangan hitam yang kini mempunyai retakan besar di permukaan kacanya, dengan goresan-goresan dan noda merah yang menghias beberapa sisi. Jam tangan hitam yang ikut mengantar kepergian Sonya dan Rivai. Jam tangan hitam penuh elegi kisah mereka berdua.
Bumi seakan berhenti berputar. Namun jarum detik masih setia berdetak, menunjukkan pada dunia bahwa waktu tidak pernah beristirahat. Kini setahun telah kulalui tanpa kehadiran seorang kakak, tanpa kasih sayangnya yang masih kuharapkan. Kutemukan diriku yang masih berbaring di tempat tidur. Berlapis selimut tebal yang menghalau udara dingin, bermandikan sinar matahari siang. Jam hitam itu masih terpasang di pergelangan tanganku. Namun tak sama lagi dengan setahun yang lalu. Kusadari jam itu sudah tak cocok di pergelangan tanganku. Terlalu besar, jam itu melingkar terlalu longgar di tangan kiriku, membuatnya tidak nyaman dipandang, membuatnya menonjolkan betapa menyedihkannya diriku sekarang. Kehilangan berat badan secara drastis, hanya menyisakan tulang berbungkus kulit. Mata yang semakin cekung, tulang pipi yang semakin menonjol, dan paras pucat sekarang terlihat permanen di wajahku. Bahkan bibirku pun terasa kaku untuk sekedar menarik salah satu sudutnya ke atas. Seperti mumi. Mengerikan dan menyedihkan.
“Kak, boleh kan jika aku menyusul kalian berdua sekarang?” gumamku pelan. “Balonku telah meletus hari ini, setelah dia menggelembung terlalu besar selama setahun. Udara yang kutiupkan terlalu banyak. Maaf, tapi tipsmu tidak berguna untukku.”
Jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh lebih delapan belas menit sebelum kedua kelopak mataku tertutup. Telingaku tuli, hanya kehampaan dan kekosongan di sekelilingku. Gelap menerpaku.
Yogyakarta, 2016
Komentar
Posting Komentar