Bunga pt. 1 | A Story

Kita bermain peran, menggelar teater kecil dalam lingkaran. Bersandiwara menjadi sepasang kekasih, tanpa naskah dan sutradara.
Berdiri di depan pintu, aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Keramaian sekolah mulai terasa seiring jam menunjukkan waktu hampir pukul tujuh pagi. Satu per satu aku megamati tiap orang yang lewat depan kelasku. Sambil berpura-pura melamun dan mendengarkan music dari earphone, aku masih sibuk mencari-cari.

Dimana? Apa belum datang? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiranku. Aku menunggu dengan tidak sabar. Tahu apa yang kutunggu? Kamu.

Kamu yang berhasil memenuhi tempat di pikiranku. Kamu yang berhasil masuk tanpa permisi di hatiku dan menetap di sana. Kamu, yang pesonanya telah menyihir diriku dalam dunia penuh harapan bernama cinta.

Entah kenapa seluruh indraku menajam karenamu. Mataku seakan dapat menangkap radar keberadaanmu walau kau berjarak denganku. Aku bisa mencium aromamu yang memabukkan dalam jauh. Telingaku begitu sensitif akan suaramu, bahkan hanya dengan mendengar namamu. Kemudian apa kamu tahu? Ketika tangan kita bersentuhan, ketika kita menyatu dalam rangkulan, itu membuat kulitku serasa terkena sengatan listrik yang merambat sampai hati. Dan kamu tidak tahu akibat dari semua itu adalah degup jantungku yang semakin menggila.

Tak sengaja mataku menatap sosokmu berjalan ke arahku di kejauhan, segera kualihkan pandanganku, berpura-pura melihat taman kecil di depan kelas. Salah satu hal sulit untuk kulakukan adalah pura-pura tidak melihatmu. Hal sulit lainnya adalah menatap matamu dalam waktu lama.

Kedua matamu adalah yang memiliki kekuatan sihir terbesar setelah sentuhanmu. Ketika dua pasang mata kita bertemu, aku merasa Eros menembakkan panah cintanya bertubi-tubi pada jantungku. Membuatku takut jika terlalu lama menatapmu. Aku takut kamu bisa menerjemahkan arti pancaran mataku padamu. Aku takut kamu mengetahui  perasaanku yang sesungguhnya dan merasa terganggu karenanya.

“Pagi, Alice,” suara lembutmu menyapaku. Tangan besarmu menepuk kepalaku.

Sedikit tersentak, aku melayangkan tatapan sebal ke arahmu. “Pagi. Lain kali jangan menepuk kepalaku!” ancamku main-main.

Kamu berdiri di depanku dan dengan santainya tersenyum jahil. “Baiklah, lain kali aku akan melakukan ini.” Tangan besarmu mengelus kepalaku lembut beberapa kali.

Susah payah aku menahan rona merah menjalari pipiku. Tawa kecil lolos dari bibirku karena perlakuanmu yang selalu bisa membuat hatiku berbunga.

“Begitu lebih baik,” kataku sambil tersenyum lebar.

“Aku duluan, mau ke kelas. Sampai jumpa nanti, say,” kamu berlalu dari hadapanku.

“Okay, jangan kangen aku ya!” ujarku separuh bercanda.

Kamu berbalik menghadapku dan melayangkan kecup jarak jauh sambil tersenyum menggoda. Aku hanya tertawa di depan pintu, menatapmu sampai kamu menghilang di balik pintu.

‘Say’, ya? Aku tahu kata itu tidak kau ucapkan sungguh-sungguh. Bahkan akupun terkadang memanggilmu begitu untuk sekedar bercanda. Tapi sebagian besar diriku berharap panggilan itu nyata.

Aku segera masuk ke kelas. Sudah bertemu denganmu membuatku tidak punya alasan lagi untuk berdiri di depan pintu. Pikiranku masih menerawang, mengingat lagi awal mula panggilan kita. Waktu itu, kita hanya sedang berkumpul bersama kawan-kawan lainnya. Berbagi cerita dan lain-lain. Saling melempar candaan untuk membuat orang lain tertawa.

Kita bermain peran, menggelar teater kecil dalam lingkaran. Bersandiwara menjadi sepasang kekasih, tanpa naskah dan sutradara. Namun sepertinya aku terlalu mendalami peranku. Seiring berjalannya waktu, aku semakin kesulitan membedakan mana yang nyata dan tidak. Perasaanku tumbuh tanpa sengaja. Dan ia masih bersemi hingga kini.

Kata siapa menyembunyikan perasaan itu mudah? Kata siapa mengubur bunga dalam hatiku ini hanya cukup dengan menabur tanah? Tidak sesederhana itu. Jika segampang itu, aku mungkin sudah hidup normal seperti saat aku belum terlalu mengenalmu.

Bel istirahat berbunyi, disambut pekikan riang teman-temanku. Segera saja mereka melesat keluar, menuju markasnya orang-orang yang lapar. Tidak berbeda denganku. Siapa yang mau menyianyiakan kesempatan mengisi perut yang berharga seperti ini, bukan begitu?

Ketika melewati perpustakaan, tidak sengaja mataku menatap papan informasi yang terpajang di dinding. Iseng aku membaca daftar nama siswa yang terkena denda karena terlambat mengembalikan buku. Aku menemukan namamu tertulis juga, di barisan atas.

Anthurium Andranu. Anthurium, artinya eksotis, menarik, dan keberuntungan melindungi. Nama yang begitu cocok dengan dirimu. Ya, kau begitu menarik hingga aku terpesona olehmu. Tapi, yang menjadi fokusku bukanlah arti namamu, melainkan nama kita.

Anthurium Andranu dan Amarylis Franceska. Nama kita sama-sama diambil dari nama bunga. Dua bunga yang sama-sama indah dan mempesona. Mungkin kamu menganggap ini hanya kebetulan saja, tapi bagiku ini keajaiban. Ah, apa aku terlalu berlebihan?

“Hoi! Jangan melamun di sana.” ――

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Holland : One Fine Day in Leiden | Review