Pinocchio's Curse | A Fanfiction
Sequel for : Bond | A Fanfiction
Jason berniat balas dendam dengan mendatangi pondok anak-anak Hecate. Lou Ellen memberi Jason sebuah ramuan aneh.
Putra Petir kesayangan kita sedang bersungut-sungut hari ini. Pasalnya
setelah kejadian tadi malam―ingat saat Percy menertawakan pengakuan cintanya?—
Jason tidak bisa berhenti memikirkan cara apa yang bisa dia lakukan untuk
membalas Bocah Laut itu. Jika saja setelah menertawakannya Percy menjawab
pengakuan Jason, dia tidak akan sekacau ini. Ditambah dengan lingkaran hitam di
sekitar matanya akibat tidak bisa tidur—sibuk memikirkan kemungkinan jawaban yang
akan diberikan Percy mengenai perasaannya pada pemuda itu, menurunkan kadar
kegantengan miliknya.
Dengan langkah lunglai pemuda pirang itu berkeliling area Perkemahan Blasteran.
Dia sudah berkeliling arena panah, arena pedang, hingga ladang strawberry di
halaman Rumah Besar. Akhirnya dia memutuskan berhenti di pinggiran dermaga
Danau Kano. Beberapa nereid berenang berputar-putar di sekeliling dermaga.
‘Ha-ah, apa yang harus kulakukan untuk mendapat jawabannya?’ pikirannya
melayang-layang, mencari-cari ide yang mungkin berbaik hati mampir ke otaknya.
Hingga tiba-tiba sebuah sambaran kilat imajiner muncul di atas
kepalanya—tunggu! Bukankah harusnya bola lampu yang menyala? Ah, masa bodoh,
dia kan anak Jupiter Yang Agung, secara teknis dia ini anak raja para dewa. Mau
memunculkan Gunung Olympus imajiner pun dia bisa.
Tapi untuk mendapat jawaban pengakuan cintanya dari seorang Percy
Jackson saja dia harus banting otak seperti ini. Halah.
Sebuah seringai tampan terbit di bibirnya, menambah kadar kegantengan
berkali-kali lipat yang mungkin sanggup membuat seekor satir jatuh pingsan
dengan hidung berdarah.
‘Aku harus minta tolong pada anak-anak Hecate,’ batinnya. Dengan segera
dia memacu langkah menuju sekumpulan pondok beraneka warna dan bentuk di lembah
Perkemahan Blasteran.
Jason berdiri di depan pondok yang terbuat dari batu-batu besar berukir
tulisan sihir. Pelan tangannya mengetuk pintu kayu. Seorang gadis berambut
hitam sepunggung yang dikuncir rendah membukakan pintu.
“Ellen, aku butuh bantuanmu,” sergap Jason tanpa tedeng aling-aling
membuat gadis itu terbengong sesaat.
oOo
Jason menghampiri pemuda berambut hitam yang tengah terduduk di pinggir
dermaga danau. Memperhatikan sebentar bagaimana pemuda itu memainkan kakinya di
air, kepalanya menunduk, mungkin mengamati para naiad yang berenang di bawah
sana.
“Hei, bro,” sapa Jason yang ikut duduk di samping Percy.
“Hei, kau tidak kencan dengan Piper?” tanya Percy basa-basi.
“Tidak. Lebih baik jika kencan denganmu saja,” jawab Jason cepat.
Percy mendengus, menganggap Jason hanya melontarkan candaan seperti
biasanya. Mungkin pembicaraan mereka di Pantai Long Island dua hari yang lalu
masih berlanjut hingga hari ini.
Pemuda pirang dengan bekas luka kecil di atas bibirnya itu menyodorkan sekaleng cola dingin, mengisyaratkan pada putra Poseidon di sebelahnya untuk menerima. Tangannya yang satu lagi memegang sekaleng kopi untuk dirinya sendiri.
“Thanks.” Tanpa curiga Percy menerima pemberian Jason. Segera ia membuka
penutup kaleng dan menegak isinya perlahan.
Diam-diam sang Putra Petir memperhatikan tiap gerak-gerik Percy, seakan
berharap sesuatu akan terjadi. Percy yang merasa ditatap oleh sepasang mata
biru tajam kemudian menoleh.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Hmm, tidak,” jawab Jason singkat. “ Hei, Perce, kau tahu Clarisse dan
Chris bertengkar sejak tadi pagi?”
“Ya, Chris tidak sengaja mengatai ceweknya itu berbadan buldoser ketika
sedang ngobrol denganku. Dan sialnya Clarisse sedang ada di dekat situ sehingga
mendengar pembicaraan kami.”
“Kau tidak kena damprat?”
“Sebenarnya aku hampir dicincang dengan tombaknya.” Tubuhnya sedikit
gemetar membayangkan kejadian tadi pagi di lapangan olahraga. Diam-diam pemuda
itu bersyukur masih bisa selamat dari terkaman putri Ares itu.
“Ngomong-ngomong, aku kehilangan sikat gigiku kemarin. Karenanya aku
terpaksa tidak sikat gigi sampai tadi pagi.”
Percy sedikit terlonjak. “Oh, a-aku tidak tahu apa-apa tentang itu,”
nada gugup terdengar samar kala Percy mengatakannya. Tepat setelah mengatakan
itu, terdengar suara ‘hik’ yang cukup keras untuk didengar Jason.
“Kau cegukan.” Pertanyaan itu lebih terdengar seperti pernyataan di telinga
Percy.
“Emm, well begitulah.”
“Katakan, kau tahu nasib sikat gigiku?”
“Tidak tahu—hik.”
“Katakan yang sebenarnya, dude!” desak Jason memaksa.
“I-itu... Groverdanakutidaksengajamenjatuhkannyakedalamkloset,” jawaban
Percy yang terlalu cepat agaknya membuat proses loading di otak Jason lambat
untuk memproses.
Mata sang Pangeran Langit tampak memicing tajam. “Kau menjatuhkan sikat
gigiku?” tanyanya penuh penekanan. “Ke dalam kloset pula?”
Percy bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir membasahi tengkuknya.
“B-baiklah, aku minta maaf. Akan kuganti nanti.”
“Aku tidak mau ganti sikat gigi.”
“Hah? Jadi, apa itu artinya aku tidak perlu menggantinya?”
“Tidak, kau harus menggantinya, tapi dengan hal lain, Percy sayang.”
“A-apa?”
“A kiss?”
“Kau gila?”
Tanpa aba-aba Jason mendekatkan wajah mereka, menghapus jarak demi jarak
yang membatasi kedua pasang bibir untuk saling bertemu. Tepat ketika hidung
mereka bersentuhan, Jason menarik kembali wajahnya, menjauh dari wajah Percy
yang sudah memerah parah. Seringai seksi hadir di raut wajah sang Putra Petir,
sedikit banyak menyadarkan Percy dari keterkejutannya.
“Putra Jupiter sialan! Kau mau membuatku mati jantungan, hah?” seru
Percy, sedikit banyak merasa kecewa karena Jason tidak jadi menciumnya. Eh, apa
dia baru saja berharap secara tidak langsung?
Sedangkan pemuda pirang itu hanya terkekeh melihat bagaimana reaksi lucu
Percy tadi. “Kau berharap aku akan melakukan apa, hm? Menciummu?”
“Mana mungkin aku berpikiran begitu!—Hik!”
“Oh, benarkah? Atau jangan-jangan kau terpesona oleh ketampananku?”
“Itu tidak akan pernah terjadi—hik!”
“Lalu apa? Kau berharap setelah ini kita jadi sepasang kekasih?”
“Aku tidak mau jadi uke-mu!—hik!”
“Siapa yang memintamu untuk jadi uke-ku? Kau benar-benar mengharapkanku,
ya? Jangan-jangan kau juga sering memimpikanku ketika tidur?”
“Jason sialan! Berhenti berkata yang tidak-tidak—hik!”
“Jadi, benar apa yang aku katakan tadi? Apa kau juga punya rasa
untukku?”
“Huh, jangan berharap terlalu tinggi! Aku tidak—Hik! Hik!”
“Wah, wah. Akhirnya aku bisa memastikannya. Jadi bagaimana kalau kita
pacaran saja, dude?”
“Apa yang kau bicarakan? Aku bilang tidak—hik! Sial! Kenapa cegukannya
tidak mau berhenti?”
Jason tertawa mendengar Percy yang susah payah menenangkan cegukan
ganjilnya. “Sepertinya ramuan Ellen berhasil.”
Percy memicing mendengar perkataan Jason. “Apa maksudmu?”
“Well, aku minta bantuan pada Lou Ellen dari pondok Hecate untuk
membuatkanku ramuan kejujuran. Apa tadi dia menyebutnya, ya? Ah, Kutukan
Pinokio.”
“Kenapa namanya harus mengandung kata kutukan?” Percy bergidik.
“Yah, mungkin karena cara kerjanya yang mirip seperti efek samping
Pinokio tiap kali berbohong. Hanya saja tidak berpengaruh pada hidungmu, tapi
cegukan yang datang tiap kali kau berkata bohong.”
“Bisa-bisanya kau memberiku ramuan aneh seperti itu!”
“Wow, wow tenanglah, Perce.” Jason berusaha menenangkan amarah Percy
yang mulai berdampak pada gelombang ombak di danau yang semakin ganas.
“Bukankah terdapat sisi bagus dari hal ini? Lihat, kau jadi bisa mengakui
perasaanmu yang sesungguhnya tanpa mengatakan yang sebenarnya.”
“Kau dendam karena aku menertawakan pernyataan cintamu waktu itu?” tanya
Percy dengan nada sinis.
“Heh, anggap saja sepadan dengan rasa malu yang kutanggung, Otak
Ganggang.”
Tepat setelah itu danau menghasilkan sebuah ombak besar, menyeret Jason
masuk ke air tiba-tiba dan menjadi mainan para naiad di sana.
Percy? Jangan ditanya. Pemuda itu langsung kabur ke pondoknya dengan
bersungut-sungut. Agaknya malu juga setelah rahasia yang disimpannya dalam hati
kini sudah diketahui Sang Putra Jupiter.
--
Behind the Scene
Jason : Author sialan, kenapa aku selalu ternistakan di akhir cerita.
Percy : Aku setuju dengan ide author untuk ini. *menyeringai
Jason : Lain kali biarkan aku sendiri yang membuat alur cerita. Akan kupastikan
kau merasakan apa
yang kurasakan, Perce. *tersenyum licik
Percy : *kicep
~FIN~
Komentar
Posting Komentar